Oendangan Kendoerij dari ADIRA dan Jalansutra

Terboeka oentoek Oemoem!
Kami Rindoe Berdjoempa dengan Saoedara Sekalijan
Seboeah pameran koeliner yang menjadjikan beragam masakan otentik tanah air
Djadilah saksij atas kekajaan resep poesaka nenek mojang.
Temoekan menoe-menoe pilihan dari dapoer kedaj/waroeng/restoran pudjaan Saoedara!
Setelah poelaoe dan lagoe, bagaimana djadinja djika resejp-resejp masakan leluehoer poen
diakoei sebagai milik bangsa lain? Pastikan djangan sampaj kedjadian!
ADIRA Finance dan Jalansutra dengan Santoen Mempersembahkan:

ADIRA Kendoeri Koeliner Noesantara 2007 (more…)

Advertisements
Published in: on November 29, 2007 at 9:42 am  Leave a Comment  

Penyebaran Islam di Betawi

Sejarawan keturunan Jerman, Adolf Heuken SJ, dalam buku Masjid-masjid Tua di Jakarta, menulis tiada masjid di Jakarta sekarang ini yang diketahui sebelum 1640-an. Dia menyebutkan Masjid Al-Anshor di Jl Pengukiran II, Glodok, Jakarta Kota, sebagai masjid tertua yang sampai kini masih berdiri. Masjid ini dibangun oleh orang Moor — artinya pedagang Islam dari Koja (India).

Sejarah juga mencatat pada Mei 1619, ketika VOC menghancurkan Keraton Jayakarta, termasuk sebuah masjid di kawasannya. Letak masjid ini beberapa puluh meter di selatan Hotel Omni Batavia, di antara Jl Kali Besar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, Jakarta Kota.

Untuk mengetahi sejak kapan penyebaran Islam di Jakarta, menurut budayawan dan politisi Betawi, Ridwan Saidi, bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro, atau Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Mula-mula maksud kedatangannya ke Jawa untuk berdakwah di Jawa Timur, namun ketika singgah di pelabuhan Karawang, Syekh urung meneruskan perjalanannya ke timur. Ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro. (more…)

Published in: on November 28, 2007 at 5:11 pm  Leave a Comment  

Wajah Suram Tata Air di Jakarta

Arisa (30 tahun) tidak pernah menyangka jika air yang digunakannya untuk memasak bisa mengantar bayi mungilnya ke ranjang pasien diare Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara. Bayi mungil Arisa yang bernama Sekar Tasya itu sekarang tergolek lemas di ranjang yang terletak di selasar ruang perawatan RSUD Koja. Tangannya dibelit selang infus. ”Anak saya muntah dan berak tidak kunjung henti,” kata Arisa sambil membelai rambut bayi mungilnya.

Rasa sedih akibat bayi mungilnya sakit itu pun dirasakan Casmini (50 tahun), mertua Arisa. Tidak henti-hentinya dia menuding kotornya air dari Perusahaan Air Minum Jakarta (PAM Jaya) sebagai penyebab munculnya penyakit diare yang menyerang cucunya itu. “Sejak pertengahan November, air ledeng mulai kotor dan berbau busuk,” kata Casmini. Air tersebut, menurut dia, terpaksa digunakan untuk mandi dan memasak karena memang tak ada lagi pilihan yang lain. Jika dipakai mandi, air tersebut membuat badan menjadi gatal-gatal.

Beruntung, hanya Sekar Tasya yang menderita diare. Tiga anak Arisa yang lain hanya mengeluh gatal-gatal. ”Mereka masih bisa bersekolah,” kata Arisa. Yahya (14 tahun), Andrian (11 tahun), dan Dodi (5 tahun) selamat dari diare. Sang kepala keluarga, Tanuri (35 tahun), tidak bisa mendampingi putri bungsunya yang dirawat karena bekerja sebagai nelayan. Tanuri dan keluarganya tinggal di Kec Cilincing, Jakarta Utara. (more…)

Published in: on November 28, 2007 at 5:00 pm  Leave a Comment  

Hukuman Mati di Betawi

Adanya hukuman mati di Indonesia lebih dipertegas lagi dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan tidak bertentangan dengan UUD 45. Khususnya terhadap pelaku kejahatan narkotika, sebanyak 62 orang telah divonis hukuman mati. Belum lagi terhadap kasus terorisme dan berbagai kejahatan lainnya.

Sayangnya, banyak koruptor yang jelas-jelas menilep uang rakyat se-abrek-abrek tidak mendapat hukuman keras. Bahkan, seorang yang dituduh melakukan pembalakan hutan di Sumut divonis bebas oleh majelis hakim, sementara maling ayam dihukum berat. Hukuman mati bukan hal baru bagi Indonesia. Sejak masa kompeni empat abad lalu hukuman ini telah melayangkan banyak nyawa. Bahkan jauh sebelumnya, di masa-masa kerajaan, hukuman mati telah dilaksanakan.

Tapi, siapa yang mulai dihukum mati pada zaman VOC? Yang jelas gubernur jenderal JP Coen pernah memancung seorang calon perwira muda VOC bernama Pieter Contenhoef di alun-alun Balai Kota (Stadhuis), kini Museum Sejarah Jakarta.

Pasalnya, pemuda berusia 17 tahun itu tertangkap basah saat ‘bermesrahan’ dengan Sara, gadis berusia 13 tahun yang dititipkan di rumah Coen. Sara sendiri, didera dengan badan setengah telanjang di pintu masuk Balai Kota. Sara adalah puteri Jacquees Speex dari hasil kumpul kebonya dengan wanita Jepang. (more…)

Published in: on November 23, 2007 at 9:07 am  Leave a Comment  

KH. Abdul Hanan Sa’id

Pada tanggal 25 Februari 2000, masyarakat Betawi kehilangan salah satu ulamanya di bidang ilmu tajwid, yaitu KH. Abdul Hanan Bin H Muhammad Sa’id, atau dikenal dengan nama KH. Abdul Hanan Sa’id; dan bulan Februari sekarang ini adalah haulnya yang ke-7.

(more…)

Published in: on November 19, 2007 at 10:32 am  Comments (1)