Wajah Suram Tata Air di Jakarta

Arisa (30 tahun) tidak pernah menyangka jika air yang digunakannya untuk memasak bisa mengantar bayi mungilnya ke ranjang pasien diare Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Utara. Bayi mungil Arisa yang bernama Sekar Tasya itu sekarang tergolek lemas di ranjang yang terletak di selasar ruang perawatan RSUD Koja. Tangannya dibelit selang infus. ”Anak saya muntah dan berak tidak kunjung henti,” kata Arisa sambil membelai rambut bayi mungilnya.

Rasa sedih akibat bayi mungilnya sakit itu pun dirasakan Casmini (50 tahun), mertua Arisa. Tidak henti-hentinya dia menuding kotornya air dari Perusahaan Air Minum Jakarta (PAM Jaya) sebagai penyebab munculnya penyakit diare yang menyerang cucunya itu. “Sejak pertengahan November, air ledeng mulai kotor dan berbau busuk,” kata Casmini. Air tersebut, menurut dia, terpaksa digunakan untuk mandi dan memasak karena memang tak ada lagi pilihan yang lain. Jika dipakai mandi, air tersebut membuat badan menjadi gatal-gatal.

Beruntung, hanya Sekar Tasya yang menderita diare. Tiga anak Arisa yang lain hanya mengeluh gatal-gatal. ”Mereka masih bisa bersekolah,” kata Arisa. Yahya (14 tahun), Andrian (11 tahun), dan Dodi (5 tahun) selamat dari diare. Sang kepala keluarga, Tanuri (35 tahun), tidak bisa mendampingi putri bungsunya yang dirawat karena bekerja sebagai nelayan. Tanuri dan keluarganya tinggal di Kec Cilincing, Jakarta Utara.

Air bersih merupakan benda yang sangat berharga bagi sebagian besar warga di Jakarta Utara. Berdasarkan pantauan Republika, ada tiga kecamatan yang dilanda kesulitan dalam mendapatkan air bersih, yaitu Kecamatan Penjaringan, Koja, dan Cilincing. Tiga kecamatan tersebut merupakan kecamatan yang padat penduduk. Warga terpaksa mendapatkan air bersih dengan membeli kepada warga lain yang memiliki penampungan air.

Setiap hari, penampungan air milik Munaim (35 tahun) di Kec Penjaringan dipadati oleh gerobak yang berisi puluhan jeriken air. ”Air dalam jeriken tersebut akan dijual kepada masyarakat yang membutuhkan,” kata Munaim. Air dari tempat penampungan milik Munaim berasal dari PT PAM Lyonaisse Jaya (Palyja) sebagai operator PAM Jaya untuk wilayah Jakarta bagian barat.

Untuk mendapatkan dua jeriken air, warga Kec Penjaringan harus mengeluarkan uang sebesar Rp 1.000. ”Dalam satu hari, kami membutuhkan kira-kira 10 jeriken air,” kata Sari, seorang ibu rumah tangga di kawasan tersebut. Air yang dibeli Sari tersebut digunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan untuk mandi dan mencuci, Sari dan keluarganya masih berani untuk menggunakan air sumur. Beberapa warga di kawasan tersebut mengaku cukup berat apabila terus-menerus membeli air dari pedagang. Maklumlah, sebagian besar dari mereka berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah.

Kondisi serupa terlihat pula di Kec Koja. Di kecamatan ini harga satu jeriken air sudah mencapai Rp 1.500. Artinya, setiap hari warga harus mengeluarkan uang setidaknya Rp 15 ribu untuk bisa mendapatkan 10 jeriken air bersih. Setiap sore, pedagang-pedagang air menyebar ke permukiman warga. Gerobak yang berisi puluhan jeriken berwarna biru itu pun menghiasi setiap sudut jalan. ”Air ledeng tidak mengalir ke semua rumah warga,” ujar Rudi, warga yang tinggal di Jl Cipeucang, Kec Koja. Menurut dia, air bersih sudah sulit didapat sejak dua pekan silam.

Di Kec Cilincing, warga terpaksa menggunakan air minum isi ulang untuk keperluan minum dan memasak sehari-hari. Kec Cilincing dan Koja berada dalam wilayah PT Thames PAM Jaya (TPJ), operator PAM Jaya di wilayah Jakarta bagian timur. Saat ini, kualitas air dari TPJ memang lebih baik dibanding beberapa pekan yang lalu. ”Meski demikian, airnya masih berbau obat,” tutur Arisa lagi. Keluarga Arisa hanya memakai air ledeng untuk mandi.

Buruknya kualitas air di beberapa wilayah Jakarta Utara membuat RSUD Koja dibanjiri pasien diare. ”Diare disebabkan kualitas air yang buruk,” kata dr Caroline Kawina, wakil direktur Pelayanan RSUD Koja. Bakteri yang terdapat di dalam air terbawa masuk ke dalam tubuh, sehingga menyebabkan muntah dan berak dalam jumlah berlebihan.

Hingga Selasa (27/11), pasien diare di RSUD Koja berjumlah 94 orang. ”Sebagian besar pasien adalah bayi di bawah umur lima tahun (balita),” kata Caroline. Diare telah merenggut delapan korban jiwa. ”Biaya pengobatan pasien ditanggung seluruhnya oleh pemerintah,” kata Caroline. Meningkatnya pasien diare di RSUD Koja, ditegaskannya memang berawal dari air yang kotor.

Tak hanya menyangkut masalah kebersihan, Jakarta saat ini menghadapi persoalan manajemen pengelolaan air secara luas. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan, sebagian wilayah Jakarta selalu terendam begitu memasuki musim hujan. Bahkan, tanpa ada hujan sekalipun, pada Senin (26/11) tiba-tiba terjadi air pasang yang menggenangi jalan Tol Sedyatmo. Lalu lintas dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta pun lumpuh. Pembenahan manajemen pengelolaan air pun menjadi masalah yang sangat mendesak di wilayah ini. c54

Sumber : Republika Online, Rabu – 28 November 2007

Published in: on November 28, 2007 at 5:00 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/11/28/wajah-suram-tata-air-di-jakarta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: