Riwayat Banjir Jakarta

Jakarta kembali dilanda banjir. Padahal, curah hujan belum mencapai puncak. Baru sekitar Januari atau Februari mendatang. Di kedua bulan itulah biasanya curah hujan sangat tinggi. Apalagi bertepatan dengan tahun baru Cina alias Imlek.

Bagi masyarakat Cina hujan di saat-saat Imlek diyakini akan membawa hokki alias rezeki. Laksana air yang mengucur dari langit, begitu sebagian pendapat mereka. Tapi, tentu saja mereka tidak mengharapkan banjir saat Imlek, yang tidak pernah luput menimpa kawasan Pecinan. Sayangnya banjir tahun ini diperkirakan bakalan lebih luas karena daya serap air tanah semakin rendah dan penyempitan sungai semakin parah. Di samping pemanasan global.

Tidak hanya itu, para pengembang juga dituding sebagai salah satu penyebab. Bila diingat 80 persen daratan Jakarta sudah dipadati bangunan. Padahal, dalam Rencana Induk Jakarta 1965-1985 ruang terbuka hijau sebagai taman kota seharusnya 60 persen. Dulu, daerah Kebayoran Baru dan Menteng semasa gubernur Ali Sadikin hanya diperuntukkan bagi perumahan.

Dari kedua kawasan di Jaksel dan Jakpus, para pemukimnya pergi bekerja keluar. Kini kedua daerah itu disesaki perkantoran dan berbagai pusat bisnis. Dulu kawasan Kuningan, Setiabudi, dan Kemang merupakan pusat bisnis susu. Ratusan warga Betawi dengan mengayuh sepeda pagi dan sore mengantarkan susu yang dikemas dalam botol ke para pelanggan di Menteng, Cikini, dan Kebon Sirih. Sementara warga Betawi berduit memelihara puluhan sapi untuk diperah susunya.

Jakarta yang terletak di dataran rendah, sejak zaman Kerajaan Tarumanegara sering dilanda banjir. Peristiwa yang terjadi 15 abad lalu itu sempat terekam dalam Prasasti Tugu di Jakut yang kini disimpan di Museum Sejarah Jakarta. Raja Purnawarman yang memimpin kerajaan ini, pernah menggali Kali Chandrabagha (Bekasi) dan Kali Gomati (Kali Mati di Tangerang) sepanjang 12 km untuk mengatasi banjir.

Untuk menyukseskan proyek tersebut Sang Raja memotong seribu ekor sapi. Para sejarawan kemudian membuat perkiraan, bila satu ekor sapi dimakan 100 orang, maka penduduk yang ada di sekitar kawasan ini 15 abad lalu sudah ratusan ribu jiwa. Ketika melakukan penggalian tersebut, kebijakan permukiman disusun berdasarkan prinsip keseimbangan ekologi. Karena itu, rawa-rawa di pedalaman boleh diuruk untuk permukiman. Tapi, Sang Raja melarang rakyat menguruk rawa-rawa di pantai, karena merupakan kawasan resapan air.

Sayangnya, ratusan hektare kawasan hutan lindung dan resapan air di Kapuk Muara dan Pantai Indah Kapuk, yang dulu dilindungi kini sudah disulap jadi hutan beton. Ekologi Jakarta juga semakin rusak sejak dibukanya Pluit dan Muara Karang menjadi wilayah permukiman. Padahal, semula kedua daerah itu merupakan daerah resepan air. Tidak heran, kalau dalam banjir 2002 lalu, jalan tol Cengkareng menjadi lumpuh karena banjir.

Anehnya, para konglomerat yang tidak betah melihat lahan konservasi itu terpelihara, tidak merasa bersalah atas kecerobahan ini. Padahal, perumahan-perumahan mewah yang mereka bangun juga diterjang banjir. Kalau sekarang 80 persen daratan Jakarta sudah dipadati bangunan, jangan heran kalau jumlahnya akan terus bertambah jika masalah lingkungan dan penghijauan tidak diperhatikan.

Ketika terjadi banjir besar Februari 2007, sejumlah warga yang berdiam di bantaran sungai menolak ketika mereka hendak dipindahkan ke rumah susun yang akan dibangun Pemda DKI. Mereka menganggap banjir yang sudah menjadi langganan hampir tiap akhir tahun menjadi hal biasa. Mungkin situasinya agak berbeda, ketika Bang Ali di masa lalu melakukan penertiban terhadap penduduk bantaran sungai di Banjir Kanal.

Dia telah memindahkan sekitar tiga ribu rumah pada daerah sepanjang 2,4 km di kedua sisi kanal. Di zaman Belanda, bukan tidak pernah terjadi banjir. Banjir paling besar terjadi di Batavia pada 1872, yang menyebabkan sluisbrug (pintu air) di depan Istiqlal sekarang, jebol. Akibatnya Harmoni, Rijswijk (Jl Veteran), dan Noordwijk (Jl Juanda) tidak dapat dilalui kendaraan. Demikian juga Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Banjir besar juga pernah terjadi di Jakarta pada 1932. Banjir yang terjadi pada 9 dan 10 Januari 1932 disebabkan hujan yang turun selama dua hari dua malam, dengan curah mencapai 150 mm. Akibat banjir ini mereka yang tinggal di Jl Sabang dan sekitarnya tidak bisa keluar rumah yang tergenang air.

Banyak penduduk tinggal di atap-atap rumah menunggu air surut. Dalam menangani banjir, pemerintah kolonial Belanda jauh lebih baik dari kita sekarang. Para lurah yang ketika itu disebut wijkmeester atau bek menurut dialek Betawi ditugaskan agar betul-betul mengawasi kebersihan. Mereka yang tepergok membuang sampah di sungai akan langsung dihukum. Pemerintah Hindia Belanda juga mengeluarkan perintah agar semua kali buatan dan kanal di dalam kota Batavia dibersihkan dari penduduk yang tinggal di bantarannya.

Beberapa waktu kemudian pembersihan kali dan penggalian kanal makin diperluas hingga ke luar kota (ke arah selatan). Kontrak pelaksanaan kerja pembersihan bantaran kali dan penggalian kanal-kanal biasanya dikaitkan dengan pembuangan sampah. Kalau Belanda bertindak tegas terhadap mereka yang tinggal di bantaran sungai, dan menghukum mereka yang membuang sampah di sungai, kenapa tindakan semacam itu kini tidak dilakukan. Kalau kita mau meredakan banjir, baik banjir kiriman maupun banjir setempat, upaya pemeliharaan sungai sangat diperlukan.  (alwi shahab)

sumber : Republika – 16 November 2007

Published in: on November 16, 2007 at 5:32 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/11/16/riwayat-banjir-jakarta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: