Dari Zaamdvoord ke Cibodas

Meski sebagian besar penduduk Jakarta pulang mudik, tapi sejak hari pertama Lebaran tempat-tempat hiburan tumpah ruah didatangi masyarakat. Tempat-tempat yang paling banyak didatangi warga untuk berekreasi adalah Taman Impiah Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebon Binatang Ragunan. Sedangkan objek wisata di luar kota yang ramai didatangi warga adalah Kebon Raya Bogor dan peranginan di kawasan Puncak.

Sampai hari ke-empat lebaran (Selasa) Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) telah didatangi lebih 500 ribu orang untuk berekreasi di tepi pantai Teluk Jakarta. Menurut Humasd TIJA, pihaknya yakin sampai akhir pekan Lebaran tempat rekreasi ini akan didatangi sekitar 1,5 juta pengunjung. Hari Sabtu dan Minggu merupakan puncak ledakan pengunjung. Untuk menyambut Lebaran tahun ini, TIJA mendatangkan Circus on Ice dari Moskow.

Dikabarkan ratusan ribu pengunjung juga telah mendatangi TMII salah satu tempat hiburan bergengsi si Jakarta. Kita boleh memuji Ibu Tien Soeharto karena idenyalah TMII dibangun tahun 1970-an. Padahal, ketika dia mengemukakan idenya untuk membangun TMII hampir tiap hari mahasiswa demo untuk menentangnya. Tapi istri Pak Harto ini tetap teguh untuk mewujudkan cita-citanya itu. TMII kini menjadi kebanggaan Indonesia dan banyak dikunjungi wisatawan asing.

Dalam ihwal rekreasi di hari-hari Lebaran, kita harus kudu tahu bahwa kebiasaan ini telah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1940-an sampai 1960-an, yang paling banyak diserbu orang saat Lebaran adalah Kebon Binatang Cikini (KBC) kini menjadi Taman Ismail Marzuki (TIM) tempat kediaman pelukis terkenal, dan seorang penyayang binatang.

Karena terletak di pusat kota (Cikini), untuk pergi ke KBC dulu cukup naik becak atau trem listrik. Maklum, ketika itu mobil pribadi hanya milik oirang-orang kaya. Bahkan jumlah motor yang sekarang ini sudah memadati jalan-jalan di Jakarta dulu baru ratusan. Dulu kebanyakan motor-motor besar buatan Eropa seperti Harley Davidson, BSA, Norton, dan Java. Sedangkan mobil juga dari Eropa dan AS seperti Fiat (Italia) dan Opel (Jerman), Chevrolet (AS). Pada 1950-an kendaraan ini dijadikan angkutan penumpang dan dinamakan Opelet dari kata Opel.

Dulu banyak orang yang pergi rekreasi dengan naik sepeda, yang padamasa Belanda memiliki jalur khusus. Termasuk rekreasi ke pantai Zaandvoord (orang Betawi menyebutnya sampur), sekitar 3 km dari Ancol. Di pantai yang masih belum tercemar (kini tempat galangan kapal), dan tanpa membayar sepeserpun itu, para keluarga dapat menggelar tikar untuk makan lesehan setelah berenang sepuasnya.

Dari Stasion Tanjung Priok ke Zaandvoord bisa juga naik becak. Pada tahun 1950-an dan 1960-an becak juga ikut mendominir angkutan di Jakarta. Pada akhir 1950-an, saat penduduk Ibukota belum 3 juta jiwa, jumlah becak mencapai 30 ribu buah. Jumlah ini meningkat hampir dua kali pada tahun 1970-an, ketika becak mulai dibatasi dan kemudian dilarang. Para wartawan ketika itu melakukan tugas reportase dengan naik becak atau trem listrik yang tamat riwayatnya pada tahun 1960.

Seperti juga sekarang, tempat-tempat rekreasi menyediakan hiburan bagi para pengunjungnya. Kalau sekarang ini didominasi dangdut dan akhir-akhir ini lagu-lagu pop, dulu yang populer adalah grup lawak Bing Selamet, Eddy Sud, Ateng dan Iskak keempatnya sudah meninggal dunia yang sering tampil di Kebon Binatang Cikini (KBC). Kemudian, muncul lawak S Bagio, US-US, Oslan Husein dan Alwi.

Setelah awal 1970-an Kebon Binatang dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan, di bekas KBC sempat dibangun bioskop Garden Hall. Di depannya terdapat lapangan tenis tempat latihan petenis kenamaan ketika itu: Kece Sudarsono dan Tan Liep Tjiaw.

Ketika itu, bioskop juga merupakan tempat yang ramai dikunjungi saat Lebaran. Maklum, televisi belum muncul ketika itu. Sayangnya, banyak tukang catut dan preman di bioskop-bioskokp. Kalau filmnya bagus, harga tiket di tukang catut bisa dua kali lipat harga resmi.

Tempat rekreasi di luar kota yang banyak didatangi pengunjung adalah Kebon Raya Bogor. Untuk pergi ke Bogor ketika itu biasa naik oplet masih satu jalur Bogor-Jakarta dan Jakarta-Bogor. Membangun jalan tol belum menjadi impian pemerintah ketika itu. Jalan raya Ciputat-Parung-Bogor belum diaspal. Tapi, herannya tidak terjadi kemacetan seperti sekarang.

Pergi ke Puncak kala itu nikmatnya bukan main, meskipun harus naik kendaraan dan bus tanpa AC. Dari Bogor sampai Puncak di kiri kanan jalan belum banyak vila seperti sekarang. Udara masih bersih dan hawanya jauh lebih dingin dari sekarang ini. Tidak terjadi kemacetan seperti sekarang ini — yang membuat orang harus menghadapi stress saat pergi dan pulang dari Puncak.

Tempat rekreasi terkenal di Puncak ketika itu adalah taman raya Cibodas. Beberapa hari setelah Lebaran banyak yang mengadakan rekreasi ke Cibodas dengan menyewa truk. Bung Karno dulu sering membawa para tamu negara ke Cibodas, seperti Presiden Voroshilov dari Uni Soviet, yang sangat mengagumi taman rekreasi Cibodas. Dia bersama Bung Karno mau berlama-lama berada di daerah yang sejuk dan penuh taman itu.

(Alwi Shahab )

sumber : Republika online, Minggu, 21 Oktober 2007

Published in: on November 2, 2007 at 9:43 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/11/02/dari-zaamdvoord-ke-cibodas/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: