Stad Batavia (1)

Seandainya Fatahillah memperbaharui Perjanjinan Sunda Kelapa dari tahun 1522 dan penguasa di Banten serta Jayakarta tidak mengijinkan musuh bebuyutan Potugis, yaitu VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) Belanda, membangun gudang di tepi Ciliwung, mungkin sekali sejarah Pulau Jawa tidak begitu parah, demikian R.Mantas Sembiring (Seribu Wajah Jakarta) dan H.M. Ambary (The Establishment of Islamic Rule in Jayakarta). Sebab, Portugis di seluruh Asia tak berdaya dan tidak pernah menguasai tanah yang luas, melainkan ingin menguasai beberapa bandar saja sebagai tempat berdagang. Hal ini dilakukan Portugis di Goa, Malaka, Ternate, Dili dan Macau.

Terlepas dari itu semua, Jayakarta kala itu memang menarik begitu banyak peminat. Terutama karena hasil ladanya yang sangat bagus dan daerahnya relatif tenang serta aman. Karena itu, dua persekutuan dagang raksasa dunia kala itu, yaitu Belanda dan Inggris yang senantiasa bersaing untuk mendapatkan simpati dari penguasa Sunda Kelapa. Demikian juga dengan Portugis sendiri yang kembali lima tahun kemudian setelah 1526/1527.

Adalah Lopo Alverez, yang mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa dan mendapatkan kuasa untuk mengamankan hak perdagangannya di kawasan itu. Kuasa yang di-akte notaris-kan itu dibuat di Malaka pada 9 Januari 1532 dan kini disimpan dalam arsip Torre do Tombo di Lisbon. Ini dikuatkan pula oleh Fernao Mendez Pinto (Peregrinicao), yang sebagaimana disimpulkan A.Heuken SJ, bahwa pada waktu itu (1544) orang Portugis sudah terbiasa berdagang dengan Banten (dan Kelapa), atau berarti permusuhan 17 tahun sebelumnya (1526/1527) tidak berlangsung terlalu lama.

Adapun ketertarikan kongsi dagang Belanda dan Inggris terhadap Sunda Kelapa sebetulnya diawali dari informasi Linschoten. Jan Huygen van Linschoten, demikian nama lengkapnya, secara diam-diam menyalin berbagai sumber dan peta Portugis sewaktu bekerja untuk uskup agung di Goa (1583-1589) yang kemudian diterbitkannya dengan judul Itinerario. Apa yang dilakukan Linschoten ini telah menyebabkan kaum pedagang di beberapa kota Belanda mengumpulkan modal untuk bersama-sama mengirim beberapa kapal ke Jawa dan Maluku (1595). Mereka ingin memasuki pasaran rempah-rempah. Dan, pada 2 April 1595, berangkatlah empat kapal dari Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman dan singgah di Banten antara 22 Juni sampai 7 Juli 1596 serta tiba di Jayakarta pada 13 November 1596. Sementara kapal Inggris pertama kali singgah di Jayakarta pada 1602.

Tentang pusat kekuatan, kala itu, Bantenlah yang menjadi pusat. Hanya saja, kondisi Banten kemudian mengalami kekacauan sejak 1602 dan mencapai puncaknya pada 1608. Dan karena itu, Belanda maupun Inggris mulai mendekati pangeran Jayakarta supaya mereka diperbolehkan memindahkan kantor, gudang dan markas mereka ke negeri Jayakarta yang lebih teratur.

Negosiator Belanda itu adalah Kapten Jacques L’Hermite, wakil perusahaan di Banten yang bertindak atas instruksi Pieter Both, Gubernur Jenderal VOC pertama. Adapun perjanjian itu ditandatangani secara resmi pada 18/28 Januari 1611 di Jayakarta. Perjanjian ini kemudian diperbaharui pada 21 Oktober 1614 yang ditandatangi Gubernur Jenderal Rijnst, yang memasukan tambahan izin untuk membongkar rumah-rumah Tionghoa yang terlalu dekat dengan gudang Belanda. Dan, inilah berita penggusuran rumah penduduk pertama di Jakarta.

Adapun hasil perundingan L’Hermite dengan Pangeran Jayawikarta, putera Pangeran Tubagus Angke, adipati Jayakarta II (1670-1600), adalah persetujuan untuk membangun sebuah rumah kayu dan batu untuk pangkalan niaga. Dengan membayar 1.200 ringgit (real?) orang Belanda mendapatkan tanah seluas 50 x 50 depa dekat muara di pinggir timur Ciliwung. Di tempat ini, di pinggir kampung Cina, mereka boleh membangun apa yang dengan berbagai istilah disebut rumah (huis), tempat berkumpul (loge) atau kantor dagang (factorij). Bangunan yang kemudian disebut Nassau Huis (Rumah Nassau) itu dilengkapi dengan sebuah bangunan yang lebih kecil, tak jauh dari sana, yang kemudian dikenal sebagai Rumah Kapten Watting, saudagar menetap yang pertama.

(sumber : http://www.bappedajakarta.go.id)

Published in: on October 30, 2007 at 2:47 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/30/stad-batavia-1/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: