WELTEVREDEN (4)

Thamrin-Sudirman adalah era Soekarno dengan ciri Hotel Indonesia, bundarannya, patung-patung, Senayan dan Ganefo. Kebayoran Baru yang mulai dibangun pada tahun 1949 sejauh delapan kilometer dari Lapangan Monas adalah tata kota modern dengan alusi oriental yang ditandai dengan empat jalan utama yang menyebar dari satu pusat persis ke empat penjuru. Ini adalah karya tata kota pertama seorang Indonesia, Ir M Soesilo.
Kebayoran Baru mengintegrasikan rumah-rumah besar dengan rumah-rumah kecil di dalam setiap blok: yang besar di luar, di tepi jalan besar, yang lebih kecil di dalam, mengelilingi taman lingkungan.
Sementara itu, di sekitar Lapangan Medan Merdeka juga terjadi pengembangan cukup menonjol, seperti dibangunnya Kantor Telpon (1909); Gedung Perhubungan Laut, dulu Kantor KPM/Koninklijke Paketvaart Maatschappij (1916); Gedung Departemen Pertahanan dan Keamanan, dulu Sekilah Tinggi Hukum (1928); Gedung Pertamina, dulu Kantor BPM/Bataafsche Petroleum Maatschappij dengan menara yang dibangun pada tahun1938 dan lain sebagainya.
Di tengah areal Lapangan Merdeka tersebut terdapat taman, lapangan olahraga dan beberapa bangunan seperti Stasion Gambir. Salah satu lapangan di sini kemudian dipakai sebagai Pasar Gambir, yang juga dikenal sebagai Jaarmarkt atau Pasar malam yang diselenggarakan setiap tahun. Kegiatan ini sempat menghilang dan kemudian diadakan kembali pada 1968 dengan nama Jakarta Fair, di lokasi yang kurang lebih sama dan sejak 1992 dipindahkan di bekas Bandar Udara Kemayoran.

Untuk tempat-tempat rekreasi yang kala itu dipelihara sangat baik antara lain, Wilhelminapark (komplek Masjid Istiqlal); Frombergspark (depan Mabes AD); Burgemeester Bisschopplein (Taman Suropati); sementara untuk wisata lautnya tersedia pantai Zandvoort (Sampur) yang mulai dikembangkan pada pertengahan abad ke-19 dan sebagainya. Karena itu, Niew Batavia , Metropolitan Weltevreden pun secara meyakinkan mengembalikan gelar, “Ratu Timur” yang terkait dengan Oud Batavia. Ini semuanya merupakan godaan besar bagi Jepang untuk merbutnya dan menjadikannya Bindatang Selatan pada Cakrawala Matahari terbit. Malahan, pengunjung-pengunjung dari Inggris, sebagaimana diungkap Willard A.Hanna (Hikayat Jakarta), menganggap Weltevreden cukup baik jika dibandingkan dengan Singapura, yang pada waktu itu dan juga kini, merupakan kota yang patut dipamerkan di khatulistiwa.
Di daerah pemukiman orang-orang Eropa dan Cina, jalan-jalan lebar diaspal dengan baik dan dinaungi pohon-pohon rindang yang secara teratur disapu serta disiram dengan air, sehingga sebagian besar kota itu setiap waktu siap untuk diperiksa kebersihannya. Rumah-rumah yang ada besar dan mewah atau kecil tetapi bersih, semua terletak jauh dari jalanan dengan halaman dan kebun. Lalu lintas kendaraan tidak merupakan masalah; ada beberapa ratus kendaraan bermotor yang akhirnya meningkat hingga beberapa ribu, cukup banyak kereta listrik dan delman yang kemudian punah, dan banyak sekali sepeda, yang kesemuanya tidak pernah menimbulkan kemacetan. Dengan disiplin, kuli-kuli mendorong gerobaknya yang penuh dengan muatan atau memikul barang-barang dengan pikulan bambu, dan secara teratur menepi untuk memberi jalan kepada kendaraan yang lebih penting.

 Banyak pula orang yang membawa bambu yang diikat menjadi rakit di dalam kanal-kalan atau Kali Ciliwung, sambil berhati-hati agar tidak mengganggu orang yang sedang mandi, mencuci atau buang air. Banyak pejalan kaki membawa payung dari kertas minyak untuk melindungi diri dari terik matahari atau hujan. Di mana-mana terdapat pedagang keliling yang membawa barang jualan, dan menabuh gendang atau seruling, atau gong untuk menarik perhatian. Sangatlah mudah bagi seorang ibu rumah tangga untuk menunggu tukang sayur, tukang daging, tukang ayam, tukang telur, tukang buah-buahan di rumah daripada pergi ke pasar. Malahan juga tukang-tukang untuk memperbaiki segala macam keperluan rumah tangga, seperti ledeng, listrik, sepatu, lewat di depan rumah, bahkan juga pemangkas rambut, tukang jahit, tukang pijat, pedagang barang-barang antik dan pedagang-pedagang kecil lainnya. Pendeknya, Batavia keadaannya aman dan tenang. Walaupun, kemiskinan dan kemelaratan terlihat dengan nyata, tetapi sama sekali tidak menonjol.

(sumber : http://www.bappedajakarta.go.id)

Published in: on October 29, 2007 at 2:48 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/29/weltevreden-4/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: