Pasar Gambir

Pasar Gambir Tempo “Doeloe”Pasar Gambir DoeloePASAR Gambir sesungguhnya sudah ada sejak tahun 1920-an. Letaknya di sekitar Stasiun Kereta Api Gambir (Jakarta Pusat) atau lapangan Monas (d/h Ikada). Namun Pasar Gambir masa kini letaknya sudah pindah atau sengaja dipindahkan ke sekitar arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, masih di Jakarta Pusat.

Di Pasar Gambir masa kini itu, dalam waktu dekat kita akan bisa menyaksikan “Kampoeng Betawi” hasil karya putra-putri Betawi yang tetap peduli pada pelestarian budayanya.

Dalam sejarahnya, Pasar Gambir yang asli merupakan salah satu pasar terkenal di Batavia pada zaman kolonial Belanda. Di pasar itulah berbaur berbagai lapisan masyarakat dari segala penjuru Batavia.

Pasar tersebut bukan hanya merupakan tempat transaksi barang dagangan, melainkan juga arena pertukaran berbagai informasi, termasuk ketika para pejuang kemerdekaan mengadakan perlawanan.

Menurut sejarah, tahun 1945 di Pasar Gambir ini pun pernah berkumpul 300.000 orang atau massa dari berbagai wilayah Jakarta dan tetangganya, seperti Tangerang dan Bekasi untuk menentang Pemerintah Jepang. Sejak dulu, Pasar Malam selalu diadakan di Gambir-Batavia, dan dinamakan Pasar Malam Gambir.

kerak_telorKarena itulah, untuk mengingatkan kembali suasana Pasar Gambir tempo doeloe, atau Jakarta tempo doeloe, pada setiap even Jakarta Fair yang berlangsung tiap tahun, di salah satu areal Pasar Gambir Kemayoran, terdapat sebuah areal khusus yang berkaitan dengan kebudayaan warga asli Jakarta (Betawi), baik berupa budaya maupun pernak-pernik, jajanan, hingga musik Betawi yang sampai saat ini terkesan menghilang di telan bumi.

Berbagai Pengaruh

Keinginan berbagai pihak untuk melestariakan Budaya Betawi memang pantas untuk didukung. Betapa tidak, “serangan” budaya asing, dari dalam maupun luar negeri, begitu gencar “menggusur” budaya Betawi.

Pemerintah provinsi DKI Jakarta sendiri, sesungguhnya berencana membangun kembali permukiman Betawi di tiga lokasi, yakni di Kemayoran Jakarta Pusat, Rorotan Jakarta Utara, dan Srengseng Sawah Jakarta Selatan.

Namun dalam perkembangannya, Kemayoran dan Rorotan gagal mempertahankan nuansa khas Betawi. Sementara, Kemayoran yang berada di pusat kota memiliki tingkat kepadatan penduduk tinggi.

Perubahan pembangunan fisik di kawasan itu juga berlangsung cepat sehingga perkampungan khas Betawi sulit dipertahankan.

Dan Rorotan, tidak mungkin dikembangkan menjadi perkampungan Betawi. Alasannya, kawasan itu akan menjadi kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. kalau sudah demikian, mungkinkah masih berharap pada Srengseng Sawah?

penganten_betawiSesungguhnya, Betawi masih menyimpan segudang warisan masa silam, ada yang kental dengan budaya Tionghoa, Eropa, dan sebagainya.

Hal itu terlihat pula pada arsitektur, musik dan berbagai peninggalan lainnya, seperti sejarah kehidupan budaya Betawi.

Mungkin Pasar Gambir masa kini, bisa menyajikan semua itu untuk warga Jakarta. Bagaimanapun, orang Betawi adalah penduduk asli orang Jakarta, yang tak bisa hilang begitu saja dari catatan sejarah panjang Ibukota Jakarta.

Disunting dari Suara Pembaruan, Senin 23 Mei 2005

(dicopy dari http://kotatua.blogspot.com)

Published in: on October 29, 2007 at 1:43 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/29/pasar-gambir/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: