K.H. Rahmat Abdullah (1953-2005)

Satu lagi tokoh nasional pergi meninggalkan kita. K.H. Rahmat Abdullah, anggota komisi III DPR RI dari Fraksi PK Sejahtera yang pernah menjabat ketua MPP periode 1999-2005. Ustadz Rahmat Abdullah, begitu beliau biasa dipanggil para muridnya, sedang menghadiri rapat lembaga tinggi partai di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Tugas barunya selaku Ketua Badan Penegak Disiplin Organisasi di PK Sejahtera 2005-2010 belum sempat ditunaikan.

Pada hari Selasa (14/6), ketika menghadiri rapat tak ada tanda-tanda beliau sakit. Wajahnya cerah seperti biasa. Namun, ketika beliau berwudhu untuk menunaikanshalat Maghrib, tiba-tiba merasakan sakit di kepala. Beliau sempat diperiksa dr. Agus Kushartoro (Direktur Bulan Sabit Merah Indonesia/BSMI) dan dinyatakan terkena stroke.

Presiden PK Sejahtera Ir. H. Tifatul Sembiring bersama fungsionaris PK Sejahtera sempat mengantarkan ke RS. Tria Dipa di Pancoran. Karena peralatannya kurang memadai, beliau segera dibawa ke RS Islam Cempaka Putih. Namun, di tengah perjalanan, sekitar pukul 19.30 beliau dipanggil Allah SWT. Ustadz Rahmat yang digelari Syaikh at Tabiyah oleh Majalah SABILI (tahun 2001), wafat dalam usia 52 tahun, meninggalkan seorang isteri dan tujuh anak.

Almarhum dimakamkan di TPU Bojong Jati Makmur, tak jauh dari tempat kediamannya yang asri. Murid dari tokoh kharismatik KH. Abdullah Syafi’ie (pendiri dan pimpinan PonPes Asy Syafi’iyah) itu memang dikenal sederhana, meskipun pengaruhnya amat besar dikalangan tokoh-tokoh muda gerakan Islam. Namanya sempat diusung Koalisi Kebangsaan dalam Sidang Umum MPR tahun 2004 sebagai alternatif calon Ketua MPR, karena dinilai paling senior. Namun akhirnya Dr. Hidayat Nur Wahid, MA yang maju dan terpilih sebagai ketua MPR RI mengalahkan calon dari Koalisi Kebangsaan.

K.H. RAHMAT ABDULLAH dilahirkan di kota Jakarta pada tanggal 3 Juli 1953. Putra kedua dari 4 bersaudara ini hidup dari keluarga asal Betawi yang sederhana dan taat beragama. Pada usia 11 tahun ia harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim.

Awal pendidikan resminya disamping dididik oleh kedua orang tua, ia memasuki sebuah perguruan Islam yang
terkenal di Jakarta, yakni Perguruan Islam As Syafi’iyah bimbingan KH. Abdullah Syafi’ie hingga
menamatkan sekolah Aliyah (tingkat menengah) dengan prestasi yang gemilang.

Rahmat Abdullah muda sangat berbeda dengan kaum remaja seusianya pada saat itu. Ia taat beribadah, selain memiliki karakter dan akhlaq yang mulia. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar, membaca dan membaca. Bahkan, diusianya yang sangat muda ia telah memposisikan dirinya sebagai guru di tempat ia menuntut ilmu.

Dunia Ilmu adalah dunia yang sangat melekat dalam dirinya. Kegemaran membaca Al Quran dan aneka buku membuat ia jauh lebih cepat matang dibandingkan remaja-remaja lain pada umumnya. Disaat itulah ia mulai banyak membaca karya pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh seperti HOS Cokro Aminoto, Moh Natsir,Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Abul A’la Maududi dan tokoh-tokoh pergerakan islam lainnya. Disamping ia tetap menekuni kitab-kitab klasik (kitab kuning) sebagai warisan sejarah.

Kebersihan jiwanya telah mengantarkan Rahmat Abdullah menjadi pemuda pembelajar cepat yang sangat cemerlang seperti lautan ilmu tanpa menyandang gelar. Ia perpaduan antara khazanah ilmu-ilmu keislaman klasik dan pandangan Islam modern yang tidak dimiliki oleh banyak orang yang berlabel Ustadz.

Dunia seni dan sastra sebagai media komunikasi budaya juga merupakan bagian dari dirinya yang tak pernah lepas. Antara bakat dan semangat telah melekat. Ia gemar dzikir dan fikir, membaca fenomena alam yang kemudian diekspresikan dalam bentuk produk seni, seperti puisi, esai, butir-butir nasyid dan naskah drama. Oleh karena itulah banyak orang cendrung
menjulukinya sebagai seorang budayawan.

Sebagai seraong da’i sejati, ia habiskan waktu, tenaga serta pikirannya untuk kegiatan da’wah. Siang dan malam dilaluinya dengan pengajian demi pengajian tanpa mengenal lelah dan keluh kesah. Ia menjadi tempat anak-anak muda berkonsultasi, berbagi rasa, curahan hati tanpa ada batas waktu “pelayan umat. Itulah peran yang ia mainkan hingga kini.

Sebagai seorang Muballigh, ia dikenal memiliki karakter yang khas. Kemampuan retorika tinggi yang dihiasi oleh sentuhan sastra yang acap kali membuat para pendengar menangis sebagaimana kemampuan ia membangkitkan semangat yang menggelora ketika ia mengangkat isu tentang JIHAD.

Beliau juga aktif mengisi ceramah di radio dan televisi. Beliau adalah pengisi rubrik rutin Titik Pandang Rahmat Abdullah di Radio Dakta Bekasi setiap Sabtu jam 06.30 WIB. Di radio ini pula beliau menggagas rubrik SAMARA yang disiarkan setiap malam rabu.

Sebagai seorang penulis, beliau aktif menulis buku dan mengisi rubrik dibeberapa majalah Islam seperti majalah SABILI, ISHLAH, SAKSI, Da’watuna, dan UMMI, TARBAWI. Di majalah yang terakhir inilah beliau secara rutin mengisi rubrik Asasiyat yang kemudia oleh Pustaka Da’watuna diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Untukmu Kader Da’wah pada tahun 2005. Buku inilah sebagai persembahan terakhir beliau.

Awal tahun 80an ia memasuki dunia Harakah Islamiyah yang pada saat itu mulai tumbuh di Indonesia hingga mengantarkan beliau sebagai pakar dalam bidang TARBIYAH (Syaikh at Tarbiyah).

Dengan bermodalkan sepeda motor tua ia masuk kampung keluar kampung, masuk kampus keluar kampus menabur fikrah Islamiyah yang shahih dan syamil. Fikroh dan manhaj da’wah yang didistribusikan ternyata mendapat sambutan yang hangat dari berbagai kalangan yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya PK Sejahtera.

Awal tahun 1990 beliau memasuki pengembangan dunia pendidikan dan social secara formal, sebagai wujud dari kepeduliannya terhadap lingkungan. Ia mendirikan ISLAMIC CENTRE IQRO yang bergerak dalam bidang pendidikan, social, dan da’wah di wilayah Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Disinilah ia menetap dan disinilah ia berekspresi mengembangkan cita-citanya melalui kajian-kajian kitab klasik setiap Ahad pagi.

Proses perjalanan da’wah yang panjang akhirnya telah menggiringnya kepada keterlibatan dalam dunia politik yang kini ia geluti. Partai Keadilan yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera, adalah bagian dari dirinya. Ia salah seorang pendiri dari partai berbasis Islam intelektual itu.

Posisi kepemimpinan tinggi dalam partai telah pula dijabatnya. Pada periode 2004/2005 beliau menjabat sebagai ketua MPP (Majelis Pertimbangan Partai) dan setelah itu baru saja dikukuhkan sebagai ketua Badan Disiplin Organisasi PK Sejahtera untuk periode 2005-2010.

Hari hari kehidupannya diwarnai oleh kesibukan yang luar biasa. Mengajar, memberi taujih pada acara kepartaian, ceramah di berbagai stasiun radio dan televisi, mengisi seminar seminar keislaman diberbagai daerah dan luar negeri, menulis artikel di
sejumlah media cetak, disamping melakukan lobby politik dengan berbagai kalangan. Hingga maut menjemputnya.

SELAMAT JALAN MUJAHID DA’WAH
MURIDMU, KADER-KADERMU AKAN MENERUSKAN CITA-CITA
PERJUANGANMU

ALLAHU AKBAR 3 X

Sumber : Mahfudz Sidik
Diketik ulang oleh Fajar Martiono

(sumber : http://www.pks-jaksel.or.id/)

Published in: on October 29, 2007 at 2:17 pm  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/29/kh-rahmat-abdullah-1953-2005/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 CommentsLeave a comment

  1. orang baik
    jangan ditangisi kepergiannya
    beliau mungkin malah sedang berbahagia di syurga

  2. we’l always remember you ya ustadz
    semoga bisa bertemu lagi
    di jannah-Nya yg Indah…
    amiiin

    Love Allaah


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: