Belajar Mandi di Passer Baroe

Passer Baroe kini lebih dikenal dengan sebutan Pasar Baru. Pusat perbelanjaan di jantung Kota Jakarta itu kini sedang bersolek, apalagi ketika berlangsungnya Festival Pasar Baru 2007 yang lalu, spanduk-spanduk dibentangkan, ondel-ondel pun dipasang di depan hampir setiap toko.

Akan tetapi, kesemarakan ini bertolak belakang dengan wajah kanal serta deretan bangunan di kanan kiri pasar. Kanal selebar sekitar lima meter di depan Pasar Baru tampak menghitam. Sederet bangunan tua terlihat kumuh serasi dengan kelamnya air kanal. Cukup sulit membayangkan, para tentara Belanda mandi di kanal tersebut pada masa kolonial saat itu.

“Awal abad ke-19 terjadi pergeseran dan perluasan kawasan permukiman di Batavia. Jika sebelumnya hanya seputaran Pelabuhan Sunda Kelapa hingga kawasan Stasiun Beos, pada awal abad ini Belanda membuka kawasan baru yang kini dikenal sebagai Jalan Veteran, Pasar Baru, dan sekitarnya,” kata sejarawan dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Lilie Suratminto.

Awal abad ke-19 adalah babak baru perkembangan Kota Jakarta dan kehidupan orang-orang Belanda, terutama para tentara. Pada masa itu, pemahaman baru tentang kebersihan mulai merasuki orang-orang Eropa.

Menurut Lilie, mulanya orang-orang Eropa di Indonesia menutup diri dari pergaulan terbuka dengan orang pribumi karena kekhawatiran bakal tertular berbagai macam penyakit. Mereka bahkan mengenakan baju ketat dan tertutup berlapis-lapis pakaian untuk menghindarkan bersinggungan dengan pribumi.

Munculnya pemahaman cara baru menjaga kesehatan yang ditelurkan para pemikir dan ilmuwan membuahkan kebiasaan baru, yaitu mandi lebih sering dan mengenakan pakaian berbahan lebih menyerap keringat. Mandi satu-dua kali sehari menjadi cara yang ajaib dan awalnya sulit dilakukan orang Belanda di Nusantara.

Lilie mengatakan, diperlukan waktu cukup lama membiasakan orang-orang Eropa yang terbiasa hanya membasuh atau mengelap badannya karena hidup di iklim dingin melakukan mandi rutin.

Salah satu caranya adalah dengan menyediakan kanal berair bersih tepat di depan Pasar Baru. Di kanal ini disediakan tangga yang memudahkan setiap orang turun menuju bibir kanal dan langsung leluasa mandi.

Tak hanya menyediakan tempat mandi yang menyenangkan, pemerintah kala itu membangun pasar yang berbeda dari pasar- pasar lain di Batavia.

Di Jakarta tempo dulu sudah ada pasar mingguan, seperti Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Kamis, Pasar Jumat, dan Pasar Minggu, yang lebih didominasi komoditas bahan pangan.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian berpikir membentuk pasar khusus yang buka setiap hari, lalu muncul lah nama Pasar Baru sebagai sebutan resmi pasar pusat penyediaan sandang di Batavia.

Di Pasar Baru tersedia aneka kain dan pakaian model terkini lengkap dari topi hingga sepatu. Para pedagangnya pun bukan main-main, yaitu orang-orang yang hanya menjajakan produk-produk berkualitas.

Urusan penyedia aneka kain, didominasi pedagang asal India. Tak heran muncul nama-nama legendaris, seperti Sri Vishnu Tailor yang hingga kini masih bertahan melayani pelanggan. Di bidang sepatu, muncul nama-nama bermarga Tionghoa.

“Pasar Baru menjadi ikon kawasan elite pada abad ke-19. Bangunan-bangunan lama yang di antaranya kini berubah menjadi Gedung Arsip Nasional dan Kompleks Departemen Keuangan adalah bagian dari permukiman elite baru tersebut. Selain rumah-rumah mewah, didirikan juga rumah-rumah peristirahatan atau vila. Umumnya, para pemilik adalah petinggi-petinggi yang berkantor di Batavia lama,” kata Lilie Suratminto.

Kaum elite ini menghabiskan waktu senggangnya dengan berjalan-jalan di Pasar Baru. Memilih pakaian tren dunia terkini, bersantap masakan oriental hingga ala Eropa, dan tak lupa membaca serta memborong buku-buku bagus di toko buku terbesar se-Asia kala itu, Toko Van Dorp.

Pasar Baru pada masa itu adalah pasar yang bebas dari kendaraan umum. Mengadopsi pasar-pasar Eropa, Pasar Baru dibangun untuk memanjakan pejalan kaki. Namun, perubahan zaman tak dapat ditolak. Pamor Pasar Baru yang menghebohkan sepanjang awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tersandung perang kemerdekaan dan masa-masa ekonomi sulit sekitar tahun 1945-1950. Pada tahun 1960-an hingga 1980-an, Pasar Baru kembali mendulang sukses meski tidak se-elite abad ke-19.

“Dari anak kecil sampai kakek nenek, hingga tahun 1970-an sampai awal 1980-an amat bangga jika berbelanja sepatu di Pasar Baru,” kata Lilie.

Saat ini masyarakat tak lagi menempatkan Pasar Baru sebagai pusat fashion. Sisa-sisa kejayaan Pasar Baru dapat dirasakan dengan sebutan kawasan ini sebagai pusat aneka produk tekstil yang bermutu serta produk sepatu yang miring harganya meski suasana serta para pengunjungnya sudah berbeda kelas.

(Neli Triana, kompas : Senin, 3 September 2007) 

Published in: on October 29, 2007 at 1:35 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/29/belajar-mandi-di-passer-baroe/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: