Sekolah Pamong

Setelah mendapat kecaman dari masyarakat luas dan beberapa gubernur mengancam tidak mau mengirimkan lagi calon prajanya ke IPDN, akhirnya kasus kematian Clif Muntu dibahas di Istana Negera. Pemerintah memutuskan IPDN tidak akan menerima praja baru pada tahun 2007-2008 guna dilakukan penataan kembali. Sementara, Rektor IPDN I Nyoman Sumaryadi dilaporkan ke Mabes Polri. Berdasarkan laporan, sejak 1993 hingga kini ada 27 praja IPDN yang tewas diduga akibat kekerasan.

IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) berdiri sejak 1956 di Malang. Pada 1965-1970 IPDN menyebar ke-20 propinsi. Pada 1989 ke-20 IPDN itu disatukan di Jatinagor, Subang, Jawa Barat. Setiap lulusannya dikukuhkan oleh Presiden RI sebagai calon pamongpraja muda. Sampai saat itu tidak pernah ada praja yang meninggal dunia. Ada yang menduga, karena pelatihnya militer yang mengetahui anotomi tubuh — bagian mana yang tidak boleh dan berbahaya bila dipukul.

Pemerintah kolonial Belanda, terutama pada saat liberalisasi menjelang akhir abad ke-19, memerlukan tenaga-tenaga pamong praja untuk ditempatkan di departemen-departemen, perkantoran pemerintahan dan juga berbagai kongsi dagang. Maka didirikanlah kantor departemen Binnenlands Bestuur (BB) yang mengurusi soal-soal pemerintahan dalam negeri.

Saat itu di Batavia berdiri sekolah pamongpraja OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Amtenanareen) dan Mosvia (Middelebare Opleiding School Voor Inlandsche Amtenaren).

Kedua sekolah pamong praja itu khusus untuk pribumi. Mereka akan dipromosikan sebagai bupati, patih dan wedana. Memasuki era kemajuan, jabatan — yang semula turun temurun pada bangsawan terkemuka — itu memerlukan tenaga yang lebih profesional.

Sebagai negara yang menjajah, Belanda mengadakan diskriminasi dalam soal jabatan. Gubernur jenderal, gubernur, residen, asisten residen, dan kontrolir, dipegang oleh Belanda. Karena banyak lulusan BB yang setelah memegang jabatan melakukan korupsi, maka sebagai ejekan BB diplesetkan menjadi ‘buaya besar’.

Pada era liberalisasi, modal-modal raksasa dari Belanda, Inggris, AS, Jerman, dan Prancis, memasuki Hindia Belanda. Didirikanlah Perguruan Tinggi Kedokteran (Geneeskumilige Hoge School — GHS) di Batavia. Selain itu, juga ada perguruan tinggi untuk mencapai Meester in de Rechten (MR) — kini sarjana hukum — di Jalan Medan Merdeka Barat yang gedungnya kini menjadi Departemen Hankam. Sedangkan di Bandung didirikan Technische Hoge School yang kini menjadi ITB.

Menjadi pertanyaan, apakah di berbagai perguruan tinggi, termasuk pendidikan pamong praja, saat itu sudah menerapkan sistem perpeloncoan. Yang pasti, sistem perpeloncoan itu merupakan warisan Belanda. Meskipun sejauh ini, berdasarkan data-data sejarah, tidak ada berita-berita mengenai korban tewas akibat kekerasan para seniornya. Di Belanda sendiri sejak 1960 sistem perpeloncoan sudah dihilangkan. Sementara, saat itu di Indonesia justru sedang digalakkan.

Seorang kerabat saya, Dorodjatun Kuncoro Yakti, menceritakan pengalamannya saat menjalani perpeloncoan ketika masuk UI pada tahun 1960. Waktu itu, sampai akhir 1960-an, mahasiswa yang diplonco diharuskan naik sepeda, memakai topi mancung, lalu di dadanya tergantung tulisan ‘Martabak Angus’. Karena dia agak hitam, maka diberi gelar demikian. Bukan ‘Arab keling’. Sebab, tidak dibenarkan memakai nama samaran yang berbau SARA.

Selama perpeloncoan, biasanya sang senior menyuruh yuniornya makan bubur dicampur minyak ikan. Kepalanya diguyur obat cuci perut yang juga berbau amis. Dia sendiri bersama rekan-rekannya pernah dilempar ke kolam renang di Jalan Kimia, di samping RS Tjipto Mangunkusumo. Tapi, ada orang yang siap untuk menolongnya, guna mencegah jangan sampai jatuh korban jiwa.

Kalau sang senior agak galak, biasanya yang dipelonco diperintahkan untuk push up sampai puluhan kali. Almarhum Firman Muntaco dalam Gambang Jakarte menceritakan kisah seorang plonco yang diberi gelar Koboi Cengeng. Ketika mengayuh sepedanya, iseng-iseng Koboi Cengeng mengenang hari-hari kemarin penuh suka duka.

”Jongkok…!” teriak senioren.
Rame-rame para plonco pada jongkok dengan mata tertutup slampe (saputangan). ”Ayo nunduk, nunduk! Jangan ngintip. Awas, kowe!”

Gunting-gunting pun pada berbunyi. Pembotakan dimulai. ”Babad saja, jangan kasih ati. Arit terus tu alang!” Maka rambut-rambut yang berombak, yang berjambul tinggi, yang bermodel GI (modal rambut tentara AS, ketika itu istilahnya cepak – Red), semua lenyap. Sebagai gantinya, ada kepala yang kayak tales, dan ada yang berambut seperti sikat kakus.

Dia juga ingat ketika keesokan harinya disuruh menyapu jalan trem. Tapi, ada yang menyenangkan sewaktu menghadap Nona Besar yang manis. ”Ha, koboi cengeng, pantes sama mukamu ya! Huh, kamu mau jadi dokter?” ”Ya, Nona Besar,” jawabnya sopan.
”Supaya lekas kaya?”
”Bukan, Nona Besar. Supaya bisa nulung orang sakit.”
”Hi hi hi, macemmu!” si Nona Besar ketawa dan tiba-tiba, ”He, kamu sudah punya meisye?”
”Belum, Nona Besar.”
”Ai… ai…, ketinggalan zaman! Kau mau sama saya!”
”Mau.”
”Mau? Punya dulu oto tiga biji, baru boleh bilang begitu. Ayo pigi!”

(Alwi Shahab )

sumber : Republika – Minggu, 15 April 2007

Published in: on October 25, 2007 at 4:05 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/25/sekolah-pamong/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: