Ketika Sepeda Merajai Jakarta

Sekarang kita jarang melihat orang bersepeda di jalan-jalan Ibukota. Hanya di daerah Jakarta Kota dan Priok masih ada ojek sepeda. Kemacetan lalu lintas di Ibukota sudah tidak ketolongan lagi, sehingga naik sepeda bisa membahayakan. Bisa-bisa tertabrak mobil atau motor yang berselewiran tiada henti.

Sepertinya naik sepeda sekarang sudah diharamkan di Jakarta. Padahal, di negara-negara maju, demi kesehatan masyarakatnya, mereka kembali banyak menggunakan sepeda. Dalam sistim aerobik, naik sepeda mendapat nilai tinggi dalam menjaga kebugaran tubuh dan mencegah penyakit jantung.

Kalau sekarang ada jalur khusus untuk bus Trans Jakarta yakni bus way, pada zaman kolonial ada jalur demikian untuk mereka yang bersepeda. Masyarakat, ketika itu dan sampai awal 1960-an, menggunakan sepeda untuk keperluan sehari-hari. Baik saat ke kantor, ke pasar, dan menonton bioskop, maupun ke tempat-tempat rekreasi.

Pertengahan tahun 1950-an, saat SMP, saya dan teman-teman tiap hari bersepeda ke sekolah. Kalau sekarang ada tempat parkiran khusus untuk motor dan mobil, ketika itu di sekolah-sekolah, bioskop dan kantor ada tempat untuk menyimpan sepeda. Pokoknya ketika itu, naik sepeda tidak membahayakan dan hampir tidak pernah terjadi kecelakaan. Bahkan, kita bisa saling ngebut, atau berpacaran dengan naik sepeda.

Ketika itu ada pajak khusus yang disebut peneng untuk sepeda. Saya lupa nilainya. Yang jelas pajak sepeda harus dibayar tiap tahun. Belanda dan juga RI pada awal kemerdekaan menerapkan wet atau peraturan yang ketat dalam soal pajak. Naik sepeda yang pajaknya sudah kadalursa bisa kena denda. Bukan hanya sepeda, kala itu ada peneng becak, gerobak, sado dan delman.

Orang harus mengunci sepedanya yang diparkir. Karena, ketika motor masih bisa dihitung dengan jari, pencurian sepeda sering terjadi. Yang banyak dicuri adalah berko — semacam beteri yang digesekkan pada ban sepeda untuk menyalakan lampu. Karena, naik sepeda pada malam hari tanpa menyalakan lampu akan kena denda. Demikian juga becak, sado dan delman. Bahkan, juga ada pajak radio. Pada 1963, ketika TVRI mulai mengudara ada pajak televisi.

Sampai pertengahan 1960-an, pegawai kantor pos saat mengantarkan surat-surat menggunakan sepeda. Tidak heran kalau pada pukul 07.00 pagi ratusan pegawai pos berhamburan dari kantor pos di Pasar Baru, Jakarta Pusat, ketempat yang menjadi tugas mereka. Tidak ketinggalan para penagih rekening bersepeda melaksanakan tugas keliling kota.

Warga Eropa, ketika pergi ke kantor di Kota dari Weltevreden (sekitar Gambir dan Pasar Baru), banyak yang menggunakan sepeda, yang saling berseliweran keliling kota Jakarta kala itu. Mereka memakai sepeda merek Batavus atau Fingers sistem doortrap (injak maju dengan rem kaki). Orang pribumi yang kaya menyukai sepeda Raleigh yang penuh aksesoris dan jika berjalan berbunyi tik ..tik ..tik.

Sepeda Raleigh berharga mahal. Orang yang menggunakannya dengan memakai capio (seperti kopiah koboi) dengan baju sadaria dan arloji saku menandai ia orang berdoku. Di lengannya terdapat akar bahar yang dipercaya sebagai obat anti rematik. Sedangkan di jarinya terdapat serentetan cincin batu, seperti blue safier, kecubung dan akik yang katanya punya khasiat-khasiat. Yang pasti, setelah makan pemakainya akan menjadi kenyang.

Pada tahun 1950-an-1060-an, sepeda motor terkenal seluruhnya buatan Eropa, seperti Java, Norton dan BSA. Motor buatan Jepang, apalagi Cina, belum satu pun yang nongol. Yang juga cukup banyak adalah motor buatan Itali, seperti skuter merek Vespa dan Lambretta. Juga ada motor Mobilette dan Ducati. Tapi, harganya tidak terjangkau untuk orang kampung. Hanya orang gedongan dan tajir saja yang bisa memilikinya. Waktu itu nampang sambil naik motor gampang dapat cewek. Hingga ada istilah ‘cewek bensin’.

Sampai awal 1960-an, di kampung saya — Kwitang, Jakarta Pusat — masih terdapat orang-orang Indo Belanda. Menurut Ridwan Saidi, akses orang Betawi di lingkungan Belanda totok atau Indo paling sedikit melalui tiga saluran. Hubungan pekerjaan, sosial dan percintaan.

Hubungan percintaan tampaknya mengawali jenis hubungan lain, dan jauh sebelum era perbudakan mencapai zaman emasnya. Yakni, pada periode Gubernur Jenderal Albertus van der Parra (1761-1775). Gubernur Jenderal yang hidupnya sangat mewah ini tiap tahun mengimpor sekitar lima ribu budak. Di samping juga mengekspornya ke mancanegara. Dia juga membangun Istana Weltevreden di Senen, yang kini menjadi RS Pusat Angkatan Darat, Gatot Subroto.

Kisah asrama terjalin dengan mudah, karena orang Eropa yang datang ke Indonesia pada awal penjajahan tidak disertai istri. Di samping Erberveld senior yang kawin dengan gadis Siam, gubernur jenderal Raffles, menurut Ridwan, juga menjalin cinta dengan wanita pribumi.

Kisah cinta Multatuli tidak kalah menariknya dengan cerita perjuangannya membela rakyat Lebak, Banten, menghadapi Belanda dan para bangsawan bangsanya sendiri. Tapi, kisah asmara yang paling legendaris adalah Nyai Dasima dengan tuan Willem yang berkebangsaan Inggris. Kisahnya terjadi pada masa Raffles saat Inggris berkuasa di Nusantara.

(Alwi Shahab )

sumber : Republika – Minggu, 18 Maret 2007

Published in: on October 25, 2007 at 3:45 pm  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://iwanabdurr.wordpress.com/2007/10/25/ketika-sepeda-merajai-jakarta/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: